Professional With an Attitude
Isi kantong sangat penting tapi isi hati dan isi otak lebih penting

Rejeki hari ini atau Sedekah hari ini ?

Sibukanlah dirimu dengan hal yang membuat bangsa ini maju dari karyamu, jangan sibuk mengurusi moral orang lain jika belum bisa membenahi moral sendiri, apalagi sibuk menghitung-hitung rejeki orang lain karena hal itu akan menutup jalan rejekimu sendiri. Rejeki dari tuhan adalah rahasia dan takkan pernah mampu manusia menghitungnya. Kesehatan jiwa dan raga adalah rejeki paling utama, harta hanya pendampingnya.

Sosok yang melakukan sedekah pada dasarnya adalah orang yang memiliki rejeki lebih daripada orang lain. Dengan memiliki perasaan demikian dan hati nurani (qalbu) yang mau berbagi dengan sesama, banyak yang meyakini akan menggerakkan potensi diri. Bila hari ini seseorang hanya mampu bersedekah satu rupiah, maka ia akan berusaha agar esok hari mampu bersedekah dua rupiah.

Karena impuls yang kuat agar mampu bersedekah lebih banyak dari hari kemarin, sudah pasti orang tersebut ingin bekerja lebih baik daripada hari ini. Jika ia seorang pegawai negeri yang gaji per bulan jumlahnya terukur, tentu mulai berpikir bekerja sambilan bersama istri atau anak-anaknya. Berulangnya perbuatan seperti itu setiap hari, tentu akan menjadi kebiasaan hidup yang pada gilirannya berubah sebagai karakter atau watak. Bayangkan, seseorang memiliki watak suka bersedekah!

Maka, andai sepertiga saja dari seluruh warga bangsa ini memiliki watak demikian, maka di Republik ini sudah mulai sulit mencari orang/anak yang kekurangan gizi. Antar-tokoh agama beserta umatnya bersatu padu, bergerak menggalang sedekah dan mendistribusikannya kepada siapa saja yang berhak, tanpa diskriminasi yang berbasis sara. Lambat laun, kemiskinan teratasi, dan tentu saja kebodohan bakal tertangani pula.

Utamakan halal

Oleh karena termotivasi niatan bersedekah, sebagai wujud iman yang dilahirkan dalam amal keshalehan, tentu orang bersedekah akan menyerahkan uang yang halal. Batiniahnya pasti memberontak bila rejeki yang akan diamalkannya itu adalah hasil pekerjaan/perbuatan tidak baik, atau perbuatan haram. Sorot mata orang yang mengenalnya, meski tak menuduhnya telah bersedekah dengan uang haram, seolah telah menuduh dirinya bersedekah dengan uang haram.

Dengan demikian, keberadaan watak bersedekah secara tak langsung akan mendidik individu untuk bertindak jujur sekaligus menyukai harta yang halal. Dan, bila seluruh kebutuhan hidup, termasuk makanan dan minuman yang disuguhkan dalam rumah tangga itu adalah rejeki halal, pasti perlindungan dan keberkahan Allah senantiasa menyelimutinya. Anak-anak mereka, insyaAllah, akan menjadi keturunan yang shaleh atau shalehah sekaligus bermanfaat bagi agama, keluarga, nusa dan bangsanya.

Mari galakkan bersedekah! Hitung berapa sedekahmu hari ini, dan jangan hitung berapa rejekimu hari ini. Mudah-mudahan korupsi dan perilaku bobrok lainnya di negeri tercinta ini bakal semakin terkikis habis. Semakin banyak orang yang berwatak suka bersedekah, Penulis yakin tidak akan menambah jumlah penduduk miskin, tapi sebaliknya justru bakal meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Sebab setiap orang semakin berusaha untuk mendapatkan rejeki halal lebih besar pada hari ini, agar dapat bersedekah lebih banyak esok hari.

Sedekah Senyummu

Lalu, bagaimana kalau hari ini aku tak mampu bersedekah? Salah satu nasihat Rasulullah Muhammad Saw: Senyummu kepada saudaramu/sesamamu, adalah sedekahmu. Jelaslah, andai Allah pada hari ini kita belum mencukupi untuk mampu bersedekah harta/uang, maka bersedekahlah dengan perbuatan atau perilaku yang baik antar-sesama. Dan, esok hari, bila belum berkemampuan pula, berperilakulah yang lebih baik daripada hari kemarin. Rejeki Allah itu diberikan kepada hambanya tanpa batas, dan datangnya pun tiada disangka-sangka.

Berarti, ketika Allah sudah berkenan mencukupi kita, saatnya kita bersedekah harta/uang beserta perilaku yang baik. Melakukan sedekah memang wajib diikuti tutur kata dan sikap yang baik. Sebab berapa pun besarannya sedekah, tidak memiliki kebaikan sama sekali tanpa disertai perkataan dan perilaku baik. Bahkan seseorang yang tak mampu berkata baik, lebih baik diam. Sehingga sering orang mengatakan, diam itu emas (jika untuk menghindari berkata buruk).

Mengapa lebih baik menghitung-hitung berapa sedekah kita daripada menghiung rejeki kita? Setidaknya ada 2 (dua) alasan.
Pertama, sedekah itu adalah urusan atau bahkan kewajiban manusia yang beriman. Sebagai bagian dari tindak keshalehan, sedekah tetap hak manusia di hadapan Allah di akhirat kelak. Jasad fisik berupa daging tubuh ini, setelah mengalami kematian, menjadi hak ulat/belatung yang bakal menggerogotinya hingga tinggal tulang-belulang. Sedangkan ruh, pasca dijemput malaikat maut, menjadi hak atau dalam kuasa Allah kembali.
Kedua, rejeki sepenuhnya merupakan hak Allah. Seberapa hebat manusia mengais rejeki, dipastikan rejeki itu bakal hilang. Sekali lagi, Rasulullah Muhammad Saw menasihati: (Hakikat) rejeki manusia itu ada 3 (tiga). Pertama, apa yang kamu makan atau dipakai, lalu habis atau rusak karena tidak dapat dipakai lagi. Kedua, apa yang kamu sedekahnya, hingga menjadi tabunganmu di akhirat kelak, dan ketiga, yaitu sisanya setelah dikurangi keduanya kalau tidak hilang, tentu dimiliki orang lain (menjadi harta warisan) yang ditinggalkan.

Belum Ada Tanggapan to “Rejeki hari ini atau Sedekah hari ini ?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: