Professional With an Attitude
Isi kantong sangat penting tapi isi hati dan isi otak lebih penting

Selayang Pandang E-Learning


1. Pengertian E-Learning
Banyak pakar yang menguraikan pengertian e-learning dari berbagai su-dut pandang. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan in-ternet, intranet atau media jaringan komputer lain (Hartley, 2001). E-learning juga didefinisikan sebagai sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaring-an komputer, dan lain-lain (Learn Frame.Com, 2001). Definisi lain menyim-pulkan bahwa e-learning adalah semua yang mencakup pemanfaatan komputer dalam menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalam-nya penggunaan mobile technologies seperti PDA dan MP3 players. Penggu-naan teaching materials berbasis web dan hypermedia, multimedia CD-Room atau web sites, forum diskusi, perangkat lunak kolaboratif, email, computer aided assessment, animasi pendidikan, simulasi, permainan, perangkat lunak manajemen pembelajaran, dan lain sebagainya. Juga dapat berupa kombinasi dari penggunaan media yang berbeda (Thomas Toth, 2003).
Jaya C. Koran (2002) mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pe-ngajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi atau bimbingan. Selanjutnya Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

2. Teknologi Pendukung E-learning
Dalam praktiknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Dalam per-kembangannya komputerlah yang paling populer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran secara elektronik. Karena itu dikenal dengan istilah computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer dan computer assisted learning (CAL) atau pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. Saat pertama kali komputer mulai diperkenalkan khususnya pada pembelajaran, maka ia akan menjadi dikenal atau populer di kalangan siswa karena berbagai variasi teknik mengajar yang bisa dibuat dengan bantuan komputer tersebut.
Adapun teknologi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu technology based learning dan technology based web learning. Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technology, misalnya: radio, audio tape, voice mail telephone, dan Video Information Technologies, misal-nya: video tape, video text, video messaging. Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies, missal-nya: bulletin board, internet, e-mail, tele-collaboration.

3. Cara Pembelajaran dengan E-learning
Pada dasarnya cara pemberian pembelajaran e-learning dapat digolong-
kan menjadi dua, yaitu one way communication (komunikasi satu arah) dan two way communication (komunikasi dua arah). Komunikasi atau interaksi antara guru dan murid memang sebaiknya melalui sistem dua arah. Dalam e-learning, sistem dua arah ini juga bisa diklasifikasikan menjadi dua yaitu, di-laksanakan melalui cara langsung (synchronous) artinya pada saat guru mem-berikan pelajaran, siswa dapat langsung mendengarkan dan dilaksanakan me-lalui cara tidak langsung (a- synchronous) misalnya pesan dari guru direkam dahulu sebelum digunakan.
Adapun karakteristik e-learning antara lain yaitu: (1) memanfaatkan jasa teknologi elektronik yaitu guru dan siswa, sesama siswa atau guru dan sesa-ma guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler; (2) memanfaatkan keunggulan komputer digital media dan computer networks; (3) menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlu-kannya; dan (4) memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kema-juan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

4. Kelebihan dan Kekurangan E-Learning
Beberapa kelebihan e-learning dibandingan dengan pembelajaran tradi-
sional adalah sebagai berikut:
c. E-learning dapat mempersingkat waktu pembelajaran dan membuat biaya studi lebih ekonomis (dalam kasus tertentu).
d. E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan atau mater, peserta didik dengan guru maupun sesama peserta didik.
e. Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demi-kian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran
f. Kehadiran guru tidak mutlak diperlukan
g. Guru akan lebih mudah melakukan alternatif bahan-bahan belajar yang mutakhir sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuwan, mengembang-kan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya, dan mengontrol kegiatan belajar peserta didik.
h. Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana sa-ja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.
i. Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif.
Beberapa kelemahan yang cenderung kurang menguntungkan bagi gu-ru, di antaranya:
a. Untuk sekolah tertentu terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang mahal untuk membangun e-learning.
b. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
c. Keterbatasan jumlah komputer yang dimiliki oleh sekolah akan mengham-bat pelaksanaan e-learning.
d. Bagi siswa yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.
e. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggu-nakan ICT.
f. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya nilai dalam proses belajar dan mengajar.

5. Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Memanfaatkan E-learning
Ahli-ahli pendidikan menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan
sebelum seseorang memilih internet untuk kegiatan pembelajaran (Bullen, 2001; Hartanto dan Purbo, 2002; Soekartawi et.al, 1999; Yusup Hashim dan Razmah, 2001) antara lain:

a. Analisis Kebutuhan (Need Analysis )
Dalam tahap awal, satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah memang memerlukan e-learning. Apabila analisis ini telah dilaksanakan dan jawabannya adalah memerlukan e-learning, maka tahap berikutnya adalah membuat studi kelayakan (Soekartawi, 1995) yang komponen penilaiannya adalah:
1) Apakah secara teknis dapat dilaksanakan (technically feasible) misalnya jaringan internet bisa dipasang, apakah infrastruktur pendukungnya seper-ti telepon, listrik, komputer tersedia, apakah tenaga teknis yang bisa meng-operasikannya tersedia, dan lain sebagainya.
2) Apakah secara ekonomis menguntungkan (economically profitable) misal-nya dengan adanya e-learning dapat memberikan keuntungan.
3) Apakah secara sosial penggunaan e-learning tersebut diterima oleh ma-syarakat (socially acceptable)

b. Rancangan Instruksional
Aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam menentukan rancangan ins-truksional (Soekartawi, et al, 1999; Yusup Hashim and Razmah, 2001) yaitu:
1) Course Content and Learning Unit Analysis seperti isi pelajaran, cakupan dan topik yang relevan.
2) Learner Analysis, seperti latar belakang pendidikan siswa, usia, seks, sta-tus pekerjaan, dan sebagainya.
3) Learning Context Analysis, seperti kompetisi pembelajaran yaitu menge-nai apa yang diinginkan hendaknya dibahas secara mendalam pada bagian ini.
4) State Instructional Objectives. Tujuan instruksional ini dapat disusun ber-dasarkan hasil dari analisis instruksional.
5) Construct Criterion Test Items. Penyusunan tes ini dapat didasarkan dari tujuan instruksional yang telah ditetapkan
6) Select Instructional Strategy. Strategi instruksional dapat ditetapkan berda-
sarkan fasilitas yang ada.

c. Tahap Pengembangan
Pengembangan e-learning dapat dilakukan mengikuti perkembangan fa-silitas ICT yang tersedia. Hal ini terjadi karena kadang-kadang fasilitas ICT tidak dilengkapi dalam waktu yang bersamaan, begitu pula dengan bahan ajar dan rancangan instruksional yang akan dipergunakan hendaknya dikembang-kan dan dievaluasi secara terus menerus.

d. Tahap Pelaksanaan
Prototype yang lengkap bisa dipindahkan ke komputer (LAN) dengan menggunakan format tertentu misalnya format Hyper Text Markup Language (HTML) dan uji prototype hendaknya terus menerus dilakukan.

e. Tahap Evaluasi
Sebelum program dimulai, ada baiknya diujicobakan dengan mengambil beberapa sampel orang yang dimintai tolong untuk ikut mengevaluasi.
Proses dari kelima tahapan di atas diperlukan waktu yang relatif lama, karena prototype perlu dievaluasi secara terus menerus. Masukan dari orang lain atau dari siswa perlu diperhatikan secara serius. Proses dari tahapan satu sampai lima dapat dilakukan berulang kali, karena prosesnya terjadi terus me-nerus.
Masalah-masalah yang sering dihadapi dalam e-learning.
1) Masalah akses untuk bisa melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan internet, listrik, telepon dan infrastruktur yang lain.
4) Masalah ketersediaan software (piranti lunak). Bagaimana mengusahakan piranti lunak yang tidak mahal.
5) Masalah dampaknya terhadap kurikulum yang ada.
6) Masalah skill dan knowledge.
7) Attitude (perilaku) terhadap ICT.
Karena itu perlu diciptakan bagaimana semuanya mempunyai sikap yang
positif terhadap ICT, bagaimana semuanya bisa mengerti potensi ICT dan dampaknya ke siswa sehingga penggunaan teknologi baru bisa mempercepat pembangunan.

6. E-learning dan Internet dalam Pembelajaran
E-learning tidak terlepas dari jasa internet. Karena teknik pembelajaran yang tersedia di internet begitu lengkap, maka hal ini akan mempengaruhi tu-gas guru dalam proses pembelajaran. Dahulu, proses belajar mengajar dido-minasi oleh peran guru, karena itu disebut the era of teacher. Kini proses be-lajar dan mengajar banyak didominasi oleh peran guru dan buku (the era of teacher and book) dan pada masa mendatang proses belajar dan mengajar akan didominasi oleh peran guru, buku, dan teknologi (the era of teacher, book and technology).
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau ti-dak mau, kita harus berhubungan dengan teknologi informasi. Hal ini dise-babkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, kita sebaiknya tidak gagap teknologi.
Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa siapa yang terlambat mengu-asai informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju. Informasi sudah merupakan “komoditi’ sebagai layaknya barang ekonomi yang lain. Peran informasi menjadi kian besar dan nyata dalam du-nia modern seperti sekarang ini. Hal ini bisa dimengerti karena masyarakat sekarang menuju era masyarakat informasi atau masyarakat ilmu pengetahuan.
Contoh klasik yang bisa dipakai bahwa kebutuhan informasi sudah mem-budaya yaitu melalui pengalaman Bill Gates yang kita kenal sebagai sosok orang yang mempunyai perusahaan Microsoft Computer. William Henry Gates III atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bill Gates tersebut sebenar-nya kuliah di bidang ilmu hukum Harvard University. Ia ingin menjadi penga-cara karena dengan keahlian sebagai pengacara tersebut, maka ia bisa mem-punyai ’power’ untuk membantu masyarakat yang memerlukan jasa hukum untuk memperoleh kebenaran.
Belajar ilmu hukum menurut dia, ternyata memerlukan waktu yang ba-nyak untuk membaca di berbagai tempat seperti perpustakaan, toko buku, atau sumber informasi yang lain. Ia merasa waktunya habis untuk membaca saja. Di situlah ia lalu menemukan idenya mengapa informasi yang tersebar di mana-mana itu tidak dikemas saja dalam satu wadah (baca komputer) agar yang memerlukannya tidak harus ke sana kemari. Di benak Bill Gates saat itu ia memimpikan ‘how to create a tool for the information era that could magnify the brain power instead of just muscle power’ (bagaimana menciptakan se-buah alat untuk era informasi yang bisa memperbesar otak selain tenaga). Se-jak itulah The Saga of Microsoft mulai digarap. Bill Gates akhirnya menjadi orang yang sangat produktif dan output oriented. Menurut Robert Heller yang menulis buku tentang Bill Gates menyatakan bahwa Bill Gates selalu bilang “Turn your vision into reality”. Itulah sebabnya program-program yang ada di Microsoft selalu dibuat user friendly. Berkat jasa Bill Gates inilah maka e-learning berkembang seperti sekarang ini.
Pemanfaatan e-learning khususnya internet untuk kegiatan pembelajaran saat ini dikenal tidak hanya di Indonesia ataupun di Asia Tenggara, namun juga di berbagai penjuru dunia. Hal ini karena suatu kebutuhan baik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan serta jawaban atas tantangan global sehingga penggunaan e-learning dalam hal ini tidak bisa dilepaskan dengan peran internet. Internet pada dasarnya adalah kumpulan informasi yang tersedia di komputer yang bisa diakses karena adanya jaring-an yang tersedia di komputer tersebut. Oleh karena itu bisa dimengerti bahwa e-learning bisa dilakukan karena internet. E-learning sering disebut pula de-ngan nama on-line course karena aplikasinya memanfaatkan jasa internet.
Pemanfaatan internet untuk e-learning di sekolah dapat meningkat apabi-la fasilitas yang mendukungnya memadai, baik fasilitas yang berupa infra-struktur maupun fasilitas yang bersifat kebijakan. Karena itu demi kelancaran terapan e-learning dalam proses belajar mengajar, perlu diantisipasi hambat-an-hambatan yang sering muncul seperti ketersediaan telepon dan listrik.
Penggunaan internet untuk pembelajaran sering disebut e-learning. Isti-lah lain untuk menamakan penggunaan internet dalam pembelajaran ialah
pembelajaran berbasis jejaring (web-based instruction), belajar on-line (online learning), ruang kelas virtual (classroom virtual), atau pembelajaran berbasis WWW (WWW based instruction). Semua istilah tersebut menyiratkan penger-tian bahwa pembelajar terpisah dari pengajar secara jarak jauh, pembelajar menggunakan teknologi untuk mengakses bahan ajar, pembelajar mengguna-kan teknologi internet untuk berinteraksi dengan pengajar dan pembelajar yang lain, dan terdapat bantuan belajar yang disediakan bagi pembelajar. Anderson & Elloumi (2004) mendefinisikan e-learning sebagai penggunaan internet untuk mengakses bahan ajar, berinteraksi dengan isi bahan ajar, pengajar dan peserta ajar lainnya, dan mendapatkan bantuan belajar selama proses pembe-lajaran, untuk dapat memperoleh pengetahuan, mengkonstruksi pemahaman, dan bertumbuh kembang melalui pengalaman belajar.
E-learning yang lengkap akan memiliki fasilitas-fasilitas sebagai berikut.
a. E-Lectures.
E-Lectures merupakan fasilitas yang menyediakan presentasi mengenai konsep atau teknik esensial yang dibutuhkan pebelajar. Presentasi terse-but dapat disajikan berupa tampilan teks melalui perangkat lunak untuk presentasi (misalnya Powerpoint), atau presentasi multimedia berupa tam-pilan audio, video, animasi, dan gambar.
b. Discussion Forum.
Discussion forum merupakan tempat interaksi antar pebelajar dengan pe-ngajar. Pebelajar diharapkan untuk memberikan ini-siasi suatu diskusi dan pebelajar yang lain memberikan tanggapan. Pengajar akan meluruskan diskusi bilamana jalannya diskusi menyimpang dari tujuan pembelajaran.
c. Ask an expert.
Fasilitas Ask an Expert menyediakan para ahli yang terkait dengan bahan ajar yang diajarkan. Pembelajar dapat mengakses pakar dalam materi yang diajarkan secara online.
d. Mentorship.
Fasilitas ini menyediakan pembimbing online mengenai materi yang spe-sifik.
e. Local learning facilitator or tutor support.
Penyediaan fasilitator lokal atau dosen lokal yang dapat memberikan per-temuan tatap muka.
d. Access to network resources.
Fasilitas ini berisikan bahan bacaan tambah-an yang relevan dengan mata kuliah.
e. Structured group activity.
Fasilitas ini berisikan kegiatan kelompok yang terstruktur seperti diskusi kelompok kecil, seminar, presentasi kelompok.
f. Informal peer interaction.
Fasilitas ini menyediakan tempat untuk interaksi antar pebelajar melalui email atau chatt-room.

Landasan Teori Belajar dalam Sistem Pembelajaran E-learning
a. Teori Belajar dalam Sistem Pembelajaran E-learning
Teori belajar merupakan sekumpulan kaidah untuk melaksanakan pem-belajaran yang efektif melalui sistem pembelajaran yang dikembangkan ber-dasarkan teori belajar. Tujuan sistem pembelajaran ialah menghadirkan peris-tiwa belajar pada pebelajar. Karena itu, pengembangan bahan ajar perlu di-kembangkan berdasarkan prinsip-prinsip belajar dan pengetahuan ilmiah me-ngenai bagaimana pebelajar belajar. Hal ini perlu dilakukan terutama pada e-learning yang terdapat keterpisahan antara pebelajar dengan pengajar. Seperti telah dinyatakan sebelumnya, e-learning dan teknologi lainnya bukanlah fak-tor penentu kualitas pembelajaran, sistem pembelajaran yang dirancang berba-sis teori belajar yang sesuailah yang menentukan efektivitas pembelajaran. Teknologi hanyalah mekanisme untuk menyampaikan pesan. Rancangan pe-san yang dilandasi oleh teori belajarlah yang akan menentukan mutu pembe-lajaran. Sebagai pengawas sekolah, pemahaman seperti ini sangat perlu, supa-ya kita tidak menilai mutu pembelajaran semata-mata dari teknologinya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita akan mempelajari bebera-pa teori belajar yang diterapkan pada e-learning.
Tiga aliran teori belajar yang melandasi sistem pembelajaran e-learning ialah psikologi perilaku (behaviorism), kognitifisme (cognitivsm), dan kons-truktifisme (constructivism). Teori belajar perilaku dipengaruhi oleh pemikir-an Thorndike (1913), Pavlov (1927), dan Skinner (1974).
1). Psikologi Perilaku.
Salah dasar teori perilaku ialah bahwa belajar merupakan suatu perubah-an perilaku yang dapat diamati yang disebabkan oleh rangsangan eksternal dari lingkungan. Para ahli psikologi perilaku mempercayai bahwa perilaku yang teramatilah, bukan apa yang ada dalam pikiran pebelajar, yang menun-jukkan telah terjadi peristiwa belajar.
2) Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif memandang belajar sebagai sebuah proses yang me-libatkan penggunaan memori, motivasi, dan berfikir. Para ahli psikologi kog-nitif melihat belajar sebagai proses internal dalam diri pebelajar. Banyaknya hal yang dipelajari ditentukan oleh kapasitas pemrosesan pada diri pebelajar, kedalaman pemrosesan, banyaknya upaya yang dilakukan oleh pebelajar, dan struktur pengetahuan yang sudah ada dalam diri pebelajar.
3) Psikologi Kognitif
Psikologi konstruktif menjelaskan proses belajar sebagai proses pebela-jar menafsirkan informasi dan dunia sekitarnya berdasarkan realitas personal. Pebelajar belajar melalui observasi, pemrosesan dan penafsiran, dan menerje-mahkan informasi kedalam pengetahuan personal. Pebelajar belajar dengan optimal ketika mereka dapat menafisirkan bahan ajar dalam konteks penera-pan langsung dan dapat menjadi pengertian personal.
Rancangan pembelajaran untuk e-learning didasarkan pada ketiga alir-an psikologi tersebut di atas. Ertmer dan Newby (1993) menyimpulkan bah-wa ketiga aliran psikologi tersebut dapat dipandang sebagai suatu taksonomi belajar. Strategi pembelajaran yang diturunkan dari psikologi perilaku dapat digunakan untuk mengajarkan fakta, strategi pembelajaran yang diturunkan dari psikologi kognitif dapat digunakan untuk mengajarkan proses dan prin-sip, sedangkan strategi pembelajaran yang diperoleh dari psikologi konstruk-tif dapat digunakan untuk mengajarkan pemikiran tingkat tinggi yang meng-hasilkan pengertian personal serta hasil belajar yang konstektual dan tersitu-asi.

Implikasi Teori Belajar Perilaku terhadap E-learning
Teori belajar perilaku memandang bahwa belajar sebagai perubahan pe-rilaku yang meliputi tindakan, pikiran, dan perasaan. Hasil belajar dapat dia-mati secara kuantitatif dari perilaku dengan mengabaikan pengaruh pemrose-san fikiran. Belajar diarahkan oleh pemberian stimulus yang tepat untuk men-dapatkan perilaku yang diharapkan. Dengan demikian, implikasi teori belajar perilaku terhadap e-learning berfokus pada stimulus penyampaian bahan ajar yang diharapkan diikuti oleh respons pebelajar yang menuju pada perilaku yang diharapkan.
Implikasi untuk e-learning antara lain:
• Pebelajar perlu diberikan secara eksplisit hasil belajar yang menjadi tu-juan pembelajaran sehingga mereka dapat menyiapkan harapan dan dapat menimbang untuk diri sendiri apakah mereka telah mencapai tujuan terse-but atau belum mencapainya pada saat pembelajaran berlangsung.
• Pebelajar perlu diuji untuk menentukan apakah mereka telah mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu, online testing atau bentuk tes lainnya per-lu diintegrasikan ke dalam pembelajaran supaya dapat memeriksa keterca-paian tujuan pembelajaran dan memberikan umpan balik yang cocok.
• Bahan ajar perlu diurutkan sedemikian rupa sehingga memudahkan pebe-lajar untuk mempelajarinya. Urutan bahan ajar tersebut adalah dari mudah ke sulit, dari yang diketahui ke yang tidak diketahui, dari pengetahuan ke penerapan.
• Pebelajar perlu disediakan umpan balik sehingga mereka dapat meman-tau proses belajar dan mendapatkan perbaikan bilamana diperlukan.

Implikasi Teori Belajar Kognitif terhadap E-learning
Teori belajar kognitif memandang belajar dari sudut pandang pemroses-an informasi, pebelajar menggunakan jenis memori yang berbeda selama pro-ses belajar, seperti terlihat pada Gambar 2. Sensasi diterima melalui indera ke dalam sensor penerima (sensory store) sebelum pemrosesan dilaksanakan. Informasi tinggal dalam sensor penerima untuk kurang dari satu detik (Kalat, 2002). Jika informasi tersebut tidak segera ditransfer ke memori jangka pen-dek, informasi tersebut akan hilang.

Rancangan pembelajaran dalam e-learning perlu menerapkan strategi yang memungkinkan pembelajar mentransfer informasi dalam bahan ajar ke-dalam memori jangka pendek. Banyaknya informasi yang dapat ditransfer ke-dalam memori jangka pendek tergantung pada banyaknya perhatian pebela-jar terhadap informasi yang datang dan – yang terutama – tergantung pada struktur kognitif yang tersedia yang membuat informasi baru tersebut menja-di dipahami oleh pebelajar. Jadi, perancang e-learning perlu memastikan bah-wa pebelajar telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkan ia mempro-ses informasi. Strategi pra pembelajaran, misalnya advance organizers, dapat diterapkan sebagai bagian dari proses belajar untuk memastikan terbentuknya struktur kognitif yang memungkinkan informasi yang datang dapat diproses dalam memori jangka pendek.
Jangka waktu dalam memori jangka pendek adalah 20 detik. Jika infor-masi dalam memori jangka pendek tidak diproses dengan baik maka informa-si tersebut tidak akan ditransfer ke memori jangka panjang untuk disimpan. Strategi dalam e-learning perlu mengorganisasikan informasi dari bahan ajar dalam potongan-potongan informasi yang cukup kecil sehingga memudahkan diproses. Kapasitas memori jangka pendek sangat terbatas, informasi perlu dikelompokkan dalam ukuran kecil dan dalam urutan yang memiliki arti. Miller, lebih lanjut, menyarankan bahwa informasi perlu dipenggal-penggal menjadi kurang lebih lima sampai tujuh (5-7) satuan informasi yang memi-
liki arti untuk menyesuaikan dengan keterbatasan kapasitas memori jangka pendek.
Setelah informasi diproses dalam memori jangka pendek, kemudian in-formasi tersebut disimpan ke dalam memori jangka panjang. Banyaknya infor-masi yang ditransfer ke dalam memori jangka panjang ditentukan oleh kuali-tas dan kedalaman pemrosesan dalam memori jangka pendek. Pemrosesan yang makin dalam akan makin banyak bentuk informasi baru yang saling ter-kait dalam memori. Informasi yang ditransfer dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dilakukan dengan cara asimilasi atau akomodasi. Da-lam asimilasi, informasi diubah untuk dicocokkan dengan struktur kognitif, sedangkan dalam akomodasi, struktur kognitif berubah menyesuaikan dengan informasi yang baru.
Menurut psikologi kognitif, informasi disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk simpul-simpul yang terhubung membentuk hubungan-hubungan. Dengan perkataan lain, informasi dalam memori jangka panjang membentuk suatu jejaring. Oleh karena itu, peta informasi yang memperlihat-kan konsep-konsep utama dalam suatu topik dan hubungan antar konsep ter-sebut perlu disertakan dalam bahan ajar pada e-learning. Pembelajar perlu di-dorong untuk membuat peta informasi seperti ini.
Teori belajar yang berlandaskan psikologi kognitif menekankan penting-nya perbedaan individual pebelajar. Perbedaan individual antara lain gaya be-lajar (learning style) dan gaya kognitif (cognitive style). Gaya belajar merujuk pada bagaimana pembelajar mempersepsi, berinteraksi, dan menanggapi ling-kungan belajar. Gaya kognitif terkait dengan kecenderungan pebelajar untuk memproses informasi, yaitu cara berfikir, mengingat, atau memecahkan masa-lah.
Gaya belajar dipengaruhi oleh dua komponen, yaitu cara mempersepsi dan memproses informasi. Cara mempersepsi terkait dengan cara pebelajar menangkap dan menyerap informasi dari lingkungan sekitar. Cara memper-sepsi bervariasi mulai dari cara mempersepsi melalui pengalaman nyata (concrete experience) sampai cara mempersepsi melalui pengamatan reflektif (reflective observation). Cara mempersepsi melalui pengalaman nyata meru-pakan gaya belajar pebelajar yang cenderung memiliki minat utuk mempe-lajari hal-hal yang memiliki arti personal dalam kehidupannya. Cara memper-sepsi melalui pengamatan reflektif adalah gaya belajar pebelajar yang cende-rung banyak menghabiskan waktu untuk merenungkan isi bahan ajar.
Komponen kedua dalam gaya belajar ialah cara memproses informasi. Cara pemrosesan informasi oleh pebelajar bervariasi mulai dari konseptuali-sasi abstrak sampai ke eksperimentasi aktif. Pebelajar yang cenderung mem-proses informasi dengan cara konseptualisasi abstrak lebih suka mempelajari fakta dan angka serta meneliti informasi baru pada topik-topik yang berbeda. Pebelajar yang cenderung memproses informasi secara eksperimentasi aktif akan lebih menyukai menerapkan apa-apa yang dipelajari ke dalam situasi nyata. Mereka lebih menyukai mencoba sesuatu dan mempelajarinya.

Implikasi Teori Belajar Konstruktif terhadap E-Learning
Psikologi konstruktif memandang pebelajar sebagai aktor belajar yang aktif daripada pasif. Pengetahuan bukanlah diterima pebelajar dari luar atau dari orang lain. Pengetahuan merupakan penafsiran individu pebelajar mela-lui pemrosesan informasi yang diterima indera untuk menghasilkan pengeta-huan tersebut. Pebelajar merupakan pusat dari semua kegiatan belajar, sedang-kan guru berperan dalam pemberian bimbingan dan kemudahan. Pebelajar perlu diberi kesempatan mengkonstruksi pengetahuan, bukan mendapatkan pengetahuan dari pembelajaran. Dalam implementasi psikologi konstruktif, kegiatan belajar berubah dari kegiatan pembelajaran satu arah menjadi kegi-
atan mengkonstruksi dan menemukan pengetahuan.
Implikasi yang dapat diturunkan dari psikologi kognitif terhadap rancang-an e-learning ialah sebagai berikut:
• Belajar sebaiknya merupakan suatu proses yang aktif. Pebelajar perlu ter-libat secara aktif dalam kegiatan yang bermakna untuk menghasilkan pe-mrosesan taraf tinggi yang memfasilitasi pembentukan pengertian perso-nal pebelajar. Meminta pebelajar menerapkan yang dipelajari ke dalam situasi praktis merupakan proses aktif. Hal seperti ini akan memfasilitasi penafsiran personal pebelajar dan relevansi antara yang dipelajari dengan situasi nyata.
• Pebelajar difasilitasi untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri bukan menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru. Konstruksi pe-ngetahuan difasilitasi oleh pembelajaran yang interaktif. Pada pembela-jaran yang interaktif, pebelajar berinisiatif untuk belajar dan berinteraksi dengan pebelajar yang lain atau dengan guru. Pada pembelajaran yang in-teraktif, kapan dan apa yang akan dipelajari dikendalikan oleh pebelajar.
• Pebelajar perlu didorong untuk belajar kolaboratif dan untuk belajar kons-truktif. Bekerja dengan pebelajar yang lain dalam suatu kelompok mem-berikan pengalaman nyata dan pebelajar mendapat manfaat dari kelebihan pebelajar lain dalam kelompok.
• Pebelajar perlu diberikan kendali terhadap proses belajar. Bila pebelajar dibolehkan untuk menentukan tujuan pembelajaran maka pembelajar per-lu mendapatkan bimbingan dari guru.
• Pembelajar perlu diberi kesempatan untuk merefleksikan pengalaman be-lajarnya. Pebelajar dapat diminta untuk membuat jurnal belajar selama proses belajar untuk mendorong mereka berrefleksi.
• Belajar perlu dibuat bermakna bagi pebelajar. Bahan ajar perlu mencakup contoh-contoh yang terkait dengan pebelajar sehingga mereka dapat me-maknai informasi yang disajikan. Tugas-tugas perlu memungkinkan pe-belajar memilih kegiatan yang bermakna bagi mereka.
• Belajar perlu interaktif untuk mengembangkan belajar dengan taraf yang lebih tinggi. Interaksi juga memunculkan perasaan kehadiran guru dan kelompok belajar. Pebelajar berinteraksi dengan bahan ajar, guru, dan pe-belajar lainnya. Menurut Garrison (1999) rancangan pembelajaran yang menghadirkan interaksi antara pebelajar dengan bahan ajar, guru, dan pe-belajar lainnya merupakan pengalaman belajar yang signifikan.

DAFTAR PUSTAKA

Dirjen PMPTK, Teknologi Informasi dn Komunikasi dalam pembelajaran, 2008.
Anderson, T. & Elloumi, F. 2004. Theory and practice of online learning. Athabasca University.
Barker, P. 1999. Mental models and network pedagogy. Makalah yang disam-paikan pada konferensi internasional Enabling Network-Based Learning, Finland, June 2- 5.
Dron, J. 2002. Achieving self-organisation in network-based environment. Disertasi tidak dipublikasikan. University of Brighton.
Haddad, W. D., & Draxler, A. 2002. Technologies for education. Paris: UNESCO.
Janicki, T.N., G.P. Schell & J. Weinroth. 2002. Development of a model for
computer supported learning systems. Available:
[Http://www.ao.uiuc.edu/ljet/v3n1/janick]
Kolb, D. 1985. Learning style inventory. Boston, MA: McBer and Company.
Lamberski, R. (2002). Kolb learning style inventory. Available at
http://www.coe.iup.edu/rjl/instruction/cm150/selfinterpretation/kolb.htm
Levin, J.A. 1995. Organizing educational network interactions: steps towards a theory of network-based learning environments. Available:
[Http://frs.ed.uiuc.edu/Guidelines/Levin-AERA-18Ap96.html]

3 Tanggapan to “Selayang Pandang E-Learning”

  1. Lumayan jadi tahu tentang e learning

  2. Syukur bisa bagi ilmu.

  3. What’s up i am kavin, its my first occasion to commenting anyplace, when i read this article i thought i could also make comment due to this sensible article.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: