Professional With an Attitude
Isi kantong sangat penting tapi isi hati dan isi otak lebih penting

Bagaimana Memahami Teknologi

Jika seorang ditanya tentang apa itu “Teknologi”, maka persepsi pikirannya pasti tertuju kepada yang ia lihat dalam bentuk kebendaan, alat, dan kondisi fisik lainnya. Sebagai misal orang akan menunjukkan mobil bagus, motor bagus, televisi bagus, komputer bagus, itu semua dijadikan jawaban atas pertanyaan tadi. Jarang sekali orang berpikir atau melakukan persepsi bahwa “Teknologi” itu mungkin sesuatu yang tidak selamanya dalam bentuk kebendaan atau kondisi fisik tetapi lebih menemukan jawaban secara nonfisik atau software. Misalnya orang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Teknologi” diantaranya cara-cara melakukan sesuatu, cara-cara membuat sesuatu dan sejenisnya.
Dari kedua perbedaan jawaban di atas, maka jika keduanya dipadukan maka pemahaman seseorang terhadap apa yang disebut dengan “Teknologi” akan lebih lengkap, baik Teknologi dalam bentuk cara membuat sesuatu (ide) maupun “Teknologi” dalam bentuk kebendaan yang dihasilkannya, misalnya dalam bentuk Sepeda Motor atau pesawat jet (hasil rancang bangun).
Pemahaman terhadap jawaban keduanya akan membekali seseorang untuk selalu mampu memahami dan mengikuti bahkan menemukan dan menciptakan hasil rancang bangunnya di masa depan. Seseorang tidak merasa aneh dengan bentuk kebendaan atau alat yang baru diciptakan seseorang atau bahkan terpesona dan terbius untuk memilikinya, akan tetapi ia akan berpikir bagaimana ia bisa mencontohnya. Pemikiran-pemikiran seperti inilah sebetulnya yang diharapkan dari banyaknya hasil rancang bangun yang ada (Teknologi rancang Bangun) dan harus dikuasai oleh setiap individu bangsa ini di kemudian hari.
Dari uraian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk memahami apa itu “Teknologi”, maka dapat dilakukan dari empat perspektif yaitu :
(a) Perspektif Teknologi sebagai Ide.
Individu yang memahami Teknologi sebagai “ide”, ia tidak akan merasa bahwa dirinya “Gaptek”, jika tidak bisa menggunakan sebuah alat yang diproduksi oleh perusahaan tertentu. Namun ia akan merasa besar hati bahwa “Teknologi” itu bukan berarti harus diwujudkan dengan mahirnya menggunakan suatu alat tertentu, akan tetapi cukup dengan memahami bagaimana alat tersebut, ada, dibuat, hingga bisa sampai kepada dirinya sebagai konsumen alat yang dimaksud. Kesimpulannya ia tidak akan merasa pesimis atau rendah diri ketika berdiskusi mengenai “Teknologi” dengan seorang Insinyur.
(b) Perspektif Teknologi sebagai Rancang Bangun.
Lain halnya dengan individu di atas, bahwa dalam memahami “Teknologi” ini maka dapat pula ditelaah dari sudut pandang Rancang Bangun. Bentuk, model, versi atau tampilan kebedaan lainnya dari sesuatu yang tentunya memberikan manfaat bagi kehidupan manusia oleh individu tertentu dapat dikatakan sebagai hasil pikir seseorang yang tadinya belum ada menjadi ada. Maka individu yang memahami “Teknologi” sebagai rancnag bangun ini juga tidak akan merasa pesimis bahwa apa yang telah diciptakan baik oleh dirinya maupun orang lain sudah menunjukkan dan mewakili bahwa itulah yang yakini sebagai “Teknologi”.

(c) Perspektif Berpikir Inovatif
Jika memahami “Teknologi” hanya dari salah satu perspektif di atas tentunya seseorang tidak akan merasa yakin dan memahami secara utuh yang dimaksud dengan “Teknologi” itu sendiri. Ada satu perspektif lain yang ditawarkan penulis, yang diharapkan mampu memberikan pemahaman seseorang terhadap “ Teknologi” secara utuh baik memahami Teknologi sebagai ide maupun sebagai Rancang Bangun. Pemahaman ini akan muncul jika seseorang telah memahami keduanya dan mulai merasakan bahwa apa yang ada dari wujud teknologi kebendaan (hasil rancang bangun) ini dirasa masih kurang memberikan manfaat dan kemudahan yang mampu mengikuti perkembangan kebutuhan hidup manusia. Secara hasil keduanya tidak bisa adaptif lagidengan budaya dan kehidupan manusia dari waktu ke waktu. Seseorang yang memahami “Teknologi” dari perspektif ketiga ini diharapkan akan menjadi seorang “Teknolog” yang sejati. Teknologi yang menguasai perspektif ktiga dalam memahami “Teknologi” inilah yang dirasa sangat dibtuhkan oleh bangsa Indonesia di kemudian hari.
(d) Perspektif Kebahasaan
Dalam perspektif ini ”Teknologi”, misalnya bahwa Teknologi bisa diidentikan dengan pertukangan yang memiliki lebih dari satu definisi. Salah satunya adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia, teknologi mulai sebelum sains dan teknik. Kata teknologi sering menggambarkan penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru ditemukan. Akan tetapi, penemuan yang sangat lama seperti roda dapat disebut teknologi. Definisi lainnya (digunakan dalam ekonomi) adalah teknologi dilihat dari status pengetahuan kita yang sekarang dalam bagaimana menggabungkan sumber daya untuk memproduksi produk yang diinginkan( dan pengetahuan kita tentang apa yang bisa diproduksi). Oleh karena itu, kita dapat melihat perubahan teknologi pada saat pengetahuan teknik kita meningkat.

Dalam memahami ”Teknologi” ini maka dalam dunia keilmuan atau ilmiah kadang orang bisa memaknai bahwa teknologi itu adalah milik semua orang yang mampu memahaminya baik dari salah satu perspektif maupun ketiga perspektif yang ada. Sebagai asumsi bahwa jika teknologi yang dimaknai sebagai ide maka posisinya berada pada setiap orang yang sedang memikirkan penciptaan sesuatu atau memikirkan penyelesaian suatu masalah, maka pemikiran-pemikiran tersebutlah yang akan memberikan solusi dalam memecahkan masalah manusia, dan sekaligus pemikiran-pemikiran itu bisa dikatakan sebagai suatu teknologi pada tataran ide.

Belum Ada Tanggapan to “Bagaimana Memahami Teknologi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: