Professional With an Attitude
Isi kantong sangat penting tapi isi hati dan isi otak lebih penting

Selaraskan Teknologi Informasi dan Budaya Karakter Bangsa

Budaya dan karakter bangsa yang harus mengendalikan pesatnya perkembangan Teknologi Informasi atau Teknologi informasi yang akan merubah budaya dan karakter bangsa?”,

Pertama saya mengenal internet dan mulai menggunakannya adalah pada tahun 1995, pada saat itu saya ingin mencari informasi tentang surat elektronik dan sekaligus ingin membuat account di Yahoo. Hal ini saya lakukan karena saat itu saya sebagai guru IT yang harus banyak mengerti tentang perkembangan teknologi, setelah mulai familiar dengan jaringan internet saya mulai berpikir bagaimana dampak dari intenet ini bagi generasi bangsa ke depan?. Menurut sejarah, internet di Indonesia mulai dikenal pada tahun 1992 seperti pada cuplikan berikut :

Mengapa pikiran itu muncul karena tanpa saya duga saya mengalami suatu pengalaman yang kurang nyaman dengan jaringan internet. Suatu hari saya mendatangi salah satu Warnet terbesar di kota Malang, waktu itu perangkat yang digunakan sangat sederhana dan koneksinya juga lambat tidak seperti sekarang. Saya buka accaunt surat elektronik saya, dan didalamnya terdapat sebuah nama yang tidak saya kenal mengirimkan surat dengan lampiran (attachment), tanpa curiga saya buka surat itu, karena saat itu koneksinya lambat maka sambil menunggu saya arahkan pandangan saya kesudut ruangan warnet yang ada televisinya, setelah beberapa saat saya lihat monitor komputer saya, betapa kagetnya saya mendapatkan layar komputer saya penuh dengan gambar tidak senonoh yang saat itu cukup membuat saya malu karena layar monitor saya dapat dilihat dari tempat lain. Dengan wajah pucat langsung monitor saya matikan dan ambil nafas panjang, selanjutnya CPU saya matikan dan beranjak membayar ke kasir.

Dalam perspektif pikiran saya seandainya saat itu saya bersama murid saya, bukankah secara tidak langsung saya sudah mengajarkan sesuatu yang kurang baik walaupun itu bukan suatu kesengajaan. Dari pengalaman timbul keinginan untuk malakukan sedkit penelitian pribadi tentang pemanfaatan internet ini bagi generasi muda dan kalangan pelajar. Di era tahun 90 an saja, saya banyak mendapati siswa masih mengenakan seragam merah putih, biru putih dengan santainya membuka situs situs porno, dari mana saya tahu?, Suatu saat saya berada di sebuah warnet dan disebelah saya duduk tiga orang siswa berseragam merah putih dalam satu komputer, mereka tertawa dan saling tunjuk pada apa yang mereka lihat dilayar komputer, dengan pura-pura mau pinjam pensil saya datangi mereka yang saat itu langsung terkejut karena tiba-tiba saya ada di belakangnya. Masih banyak lagi pengalaman pengalaman serupa dimasa itu. Pikiran sederhana saya muncul dengan sebuah pertanyaan bagaimana menyikapi perkembangan teknologi Informasi kedepan?
Saat ini 16 tahun telah belalu perkembangan teknologi informasi sudah menjalar diseluruh urat nadi bangsa ini, mulai dari hal yang sederhana sampai yang komplek semua mengintegrasikan teknologi informasi. Pada masa perangkat keras dan perangkat lunaknya masih sederhana saja sudah banyak penyimpangan, bagaimana saat ini dengan ditunjang oleh kecanggihan perangkat keras dan perangkat lunak yang semakin canggih, dan dapat diakses dengan mobilitas yang tinggi juga. Mungkin tak terhitung dan tak terkontrol. Bahkan bukan hanya ulah anak-anak sekolah yang memang masa-masa usia keingintahuan tinggi dan dan kenakalannya. Saat ini banyak di pemberitaan di media masa yang meberitakan hal hal negatif tentang dampak teknologi informasi misalnya anggota dewan yang menonton video porno dalam sidang, belum lagi beberapa camat yang menonton video porno saat bupati sedang berpidato,
Kalau kita tinjau secara seksama banyak anak bangsa ini yang sudah termakan isu negatif dari teknologi informasi. Pemerintah sudah berusaha untuk memaksimalkan proteksi dari dampak negatif ini dengan melakukan pemblokiran pada situs situs porno, namun demikian pemerintah juga tidak dapat menjamin 100% semua akan terblokir, kenyataannya memang masih banyak situs porno yang masih dengan mudah di akses. Uraian diatas baru dari sisi pengguna pasif teknologi, lalu bagimana dengan penggunan yang aktif? Bagaimana dengan pembobolan rekening bank dan kejahatan yang memanfaatkan Teknologi informasi yang lain? Semua masalah pemanfaatan teknologi informasi ini tidak lepas dari faktor yang mengarah pada prilaku positif dan negatif. Jadi tergantung bagaimana kita menyikapinya secara bijak.
Faktor yang mempengaruhi pelanggaran etika dalam penggunaan teknologi informasi.
• Kebutuhan individu, seperti Korupsi adalah alasan ekonomi
• Tidak ada pedoman, seperti Area “abu-abu”, sehingga tak ada panduan
• Perilaku dan kebiasaan individu, seperti kebiasaan yang terakumulasi tak dikoreksi
• Lingkungan tidak etis karena pengaruh dari komunitas
• Perilaku orang yang ditiru misalnya efek primordialisme yang kebablasan

Lalu bagaimana sebenarnya dampak dari penerapan teknologi informasi terhadap perubahan etika, hubungan etika dan teknologi informasi dapat di jelaskan secara sederhana seperti berikut :
Teknologi adalah segala sesuatu yang diciptakan manusia untuk memudahkan pekerjaannya. Walaupun dengan kehadiran teknologi membuat manusia “kehilangan” beberapa sense of human yang alami, seperti kewaspadaan yang kian melambat. Biasanya cara orang berkomunikasi melalui email, dapat membawa perubahan signifikan dalam sapaan atau tutur kata. Ada kebiasan orang berzakat dengan SMS, hal ini berimplikasi pada silaturahmi yang “tertunda”, sehingga emosi yang semakin tumpul karena jarak dan waktu semakin bias dalam teknologi informasi. Dari uraian tersebut dapat kita simpulkan betapa perkembangan teknologi informasi dapat merubah prilaku, etika, bahkan pradigma berpikir seseorang.
Sebagai tambahan wawasan kita mari kita bahas beberapa dampak dari penggunaan teknologi infoemasi ini terutama internet :

Cybercrime
Cybercrime merupakan bentuk-bentuk kejahatan yang ditimbulkan karena pemanfaatan teknologi internet. Dan dapat juga didefinisikan sebagai perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan menggunakan internet yang berbasis pada kecanggihan teknologi komputer dan telekomunikasi.

Jenis-jenis Cybercrime
1. Unauthorized Access. Terjadi ketika seseorang memasuki atau menyusup ke dalam suatu system jaringan komputer secara tidak sah, tanpa izin atau tanpa sepengetahuan dari pemilik system jaringan komputer yang dimasukinya. Probing dan Port Scanning merupakan contoh dari kejahatan ini.ktivitas “Port scanning” atau “probing” dilakukan untuk melihat servis-servis apa saja yang tersedia di server target.
2. Illegal Contents Merupakan kejahatan yang dilakukan dengan memasukkan data atau informasi ke internet tentang sesuatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar hukum atau mengganggu ketertiban umum.
3. Penyebaran Virus Secara Sengaja Penyebaran virus umumnya dilakukan dengan menggunakan email.Seringkali orang yang system emailnya terkena virus tidak menyadari hal ini. Virus ini kemudian dikirimkan ke tempat lain melalui emailnya. Contoh kasus : Virus Mellisa, I Love You, dan Sircam.
4. Data Forgery Kejahatan jenis ini bertujuan untuk memalsukan data pada dokumen-dokumen penting yang ada di Internet.
5. Cyber Espionage, Sabotage and Extortion Merupakan kejahatan yang memanfaatkan jaringan internet untuk melakukan kegiatan mata-mata terhadap pihak lain dengan memasuki system jaringan komputer pihak sasaran.Selanjutnya, sabotage and extortion merupakan jenis kejahatan yang dilakukan dengan membuat gangguan, perusakan atau penghancuran terhadap suatu data, program komputer atau system jaringan komputer yang terhubung dengan internet.
6. Cyberstalking Dilakukan untuk mengganggu atau melecehkan seseorang dengan memanfaatkan komputer, misalnya menggunakan e-mail atau facebook dan dilakukan berulang-ulang. Kejahatan tersebut menyerupai terror yang ditujukan kepada seseorang dengan memanfaatkan media internet.
7. Carding Merupakan kejahatan yang dilakukan untuk mencuri nomor kartu kredit milik orang lain dan digunakan dalam transaksi perdagangan di internet.
8. Hacking dan Cracking Istilah hacker biasanya mengacu pada seseorang yang mempunyai minat besar untuk mempelajari system komputer secara detail dan bagaimana meningkatkan kapabilitasnya. Besarnya minat yang dimiliki seorang hacker dapat mendorongnya untuk memiliki kemampuan penguasaan system di atas rata-rata pengguna. Jadi, hacker memiliki konotasi yang netral. Aktivitas cracking di internet memiliki lingkungan yang sangat luas, mulai dari pembajakan account milik orang lain, pembajakan situs web, probing, menyebarkan virus, hingga pelumpuhan target sasaran.
9. Cybersquatting and Typosquatting Merupakan kejahatan yang dilakukan dengan mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain dan kemudian berusaha menjualnya kepada perusahaan tersebut dengan harga yang lebih mahal.
10. Typosquatting adalah kejahatan dengan membuat domain yang mirip dengan nama domain orang lain.
11. Hijacking Merupakan kejahatan melakukan pembajakan hasil karya orang lain. Yang paling sering terjadi adalah Software Piracy (pembajakan perangkat lunak)
12. Cyber Terorism Suatu tindakan cybercrime termasuk cyber terorism jika mengancam pemerintah atau warganegara, termasuk cracking ke situs pemerintah atau militer.

Dampak Cybercrime
Cybercrime sangat berdampak negatif bagi keamanan Negara antara lain menimbulkan kurangnya kepercayaan dunia terhadap suatu negara dan berpotensi menghancurkan Negara. Hal ini karena cybercrime menimbulkan kerawanan sosial dan politik yang ditimbulkan yang menghasilkan isu-isu yang meresahkan, memanipulasi simbol-simbol kenegaraan, dan partai politik dengan tujuan untuk mengacaukan keadaan agar tercipta suasana yang tidak kondusif. Munculnya pengaruh negative dari maraknya situs-situs porno yang dapat diakses bebas tanpa batas yang dapat merusak moral bangsa. Sebagai Insan Pendidik kita harus selalu memberikan tuntunan yang tepat bagi pengguna teknologi informasi ini demi untuk menunjang pengembangan budaya karakter bangsa yang bermartabat. Adapun langkah langkah yang bisa kita lakukan dapat mengacu pada kode etik IEEE(Institute of Electrical and Electronics Engineers), antara lain:

Jika kode etik penggunaan teknologi informasi diabaikan maka akan berdampak pada dampak negatif yang berbahaya antara lain adalah :
• Rasa ketakutan.
• Keterasingan.
• Golongan miskin informasi dan minoritas.
• Pentingnya individu.
• Tingkat kompleksitas serta kecepatan yang sudah tak dapat ditangani.
• Makin rentannya organisasi.
• Dilanggarnya privasi.
• Pengangguran dan pemindahan kerja.
• Kurangnya tanggung jawab profesi.
• Kaburnya citra manusia.
Dikarenakan banyak pelanggaran yang terjadi berkaitan dengan hal diatas, maka dibuatlah undang-undang sebagai dasar hukum atas segala kejahatan dan pelanggaran yang terjadi. Undang-undang yang mengatur tentang Teknologi Informasi ini diantaranya adalah :
UU HAKI (Undang-undang Hak Cipta) yang sudah disahkan dengan nomor 19 tahun 2002 yang diberlakukan mulai tanggal 29 Juli 2003 didalamnya diantaranya mengatur tentang hak cipta.
UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang sudah disahkan dengan nomor 11 tahun 2008 yang didalamnya mengatur tentang :
1. Pornografi di Internet
2. Transaksi di Internet
3. Etika penggunaan Internet
Namun apakah upaya pemerintah diatas menjadi jaminan yang kuat dan dipastikan dapat membendung arus prilaku negatif dari dampak teknologi?, saatnya akita kembalikan pada konsep budaya dan karakter bangsa kita untuk membenahi semua itu bermula dari SDM yang ada. Kita harus dapat mengendalikan perkembangan teknologi informasi dari kaca mata Budaya dan karakter bangsa kita dengan mengintegrasikan konsep jati diri bangsa sebagai berikut :
1. Berlandaskan Pancasila, sehingga berdasarkan Ketuhanan YME, menjunjung tinggi kemanusiaan yg adil dan beradab, mengedepankan persatuan Indonesia, menjunjung tinggi demokrasi dan HAM, mengedepankan keadilan dan kesejahteraan rakyat.
2. Pemanfaatan Teknologi Informasi dapat juga dikaitkan dengan konsep psikologi SQ, IQ, EQ dan AQ.
3. Pemanfaatan Teknologi Informasi dapat juga dirujukkan dengan sifat utama : sidiq, amanah, tabligh, fathonah.
4. Pemanfaatan Teknologi Informasi dapat dikaitkan dengan sifat sosiologis manusia: believer, thinker, doer, networker.
5. Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam kaitannya dengan pengembangan karakter bangsa dapat dilakukan melalui konsep pendidikan, yaitu olah hati, olah pikir, olah raga, dan olah rasa/karsa.
Pada dasarnya teknologi hanyalah alat, yang paling berperan penting dalam manusia yang ada dibelakang teknologi tersebut, maka hendaklah kita harus mengendalikan teknologi untuk kemaslahatan kehidupan berwarga Negara, bukan malah menjadi korban majunya teknologi yang mengarah pada perubahan peradapan hidup yang meninggalkan budaya dan karakter bangsa sendiri.

Mari Selaraskan Teknologi informasi dan Budaya karakter bangsa untuk mengembalikan citra bangsa Indonesia yang ramah dan bermoral.

About these ads

Satu Tanggapan to “Selaraskan Teknologi Informasi dan Budaya Karakter Bangsa”

  1. saya sangat setuju pak denga penyelarasan teknologi informasi dan budaya karakter demi mempermudah guru PKn dalam menerapkannya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: